Senin, 19 Desember 2011

Mengapa Menguap Bisa Nular ?

0

Lihatlah seseorang yang sedang menguap, dan cobalah untuk tidak ikut menguap.






Hal tersebut mungkin akan sulit dilakukan. Saat membaca tulisan ini -yang membahas tentang menguap- Anda mungkin sudah ikut menguap.
Ada sebuah penelitian yang menawarkan penjelasan mengapa kita cenderung ikut menguap ketika melihat orang lain menguap (menguap yang menular).
Menurut hasil penelitian, ikut menguap menunjukkan tanda empati dan bentuk ikatan sosial. Hal tersebut terutama terjadi pada orang dewasa karena anak-anak hingga usia 4 tahun tidak menunjukkan perilaku ini.
Menguap bisa membantu dokter mendiagnosa adanya gangguan perkembangan. Tidak hanya itu, penelitian ini juga dapat mengarahkan pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana manusia saling berkomunikasi dan terhubung.
Menurut Robert Provine, ahli syaraf perkembangan di University of Maryland, Baltimore County, janin mulai menguap dalam rahim sejak usia 11 minggu.
Pada kenyataannya, semua vertebrata menguap, termasuk ular dan kadal. Namun menguap yang menular hanya terjadi pada manusia, simpanse dan anjing.
Seperti tertawa atau menangis yang menular, para ilmuwan berteori bahwa ikut menguap merupakan cara untuk menunjukkan ikatan sosial.
Penelitian menunjukkan sekitar 40 hingga 60 persen orang dewasa turut menguap setelah melihat seseorang menguap.
Penelitian juga menunjukkan dibanding anak normal, hanya setengah anak yang mengalami autis awal ikut menguap. Sedang anak yang menderita autis parah tidak pernah terlihat ikut menguap.
Hal ini menunjukkan bahwa ikut menguap merupakan salah satu cara untuk berempati dimana anak dengan autisme yang notabene memiliki masalah dalam perkembangan empati tidak menunjukkan kecenderungan ini.


Posted by Prama, 19 Desember 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting