Senin, 22 Agustus 2011

Perjuangan Marsinah melawan kebobrokan dibumi Sidoarjo

0


LUMPUR Lapindo, menyembur dari kemaraham bumi hingga menerabas, mencakar dan menenggelamkan sebagian daerah Sidoarjo. Bangunan permanent yang dihuni ribuan buruh dan tumpukan mesin penghasil uang, terkubur tanpa meninggalkan sisa untuk pemiliknya.
Bencana itu seperti karma atas penindasan, ketidakadilan dan kesewenangan para pengusaha terhadap nasib buruh. Pengeksploitasian keringat buruh demi rupiah semata, menjadi luas tergambar dari hempasan lumpur yang tak kenal ampun. Cengkaramannya, melumat Sidoarjo menjadi danau lumpur.
Dosa apa yang terkubur di Siodarjo, hingga karmanya begitu kuat. Segar dalam ingatan semua orang. Di lahan pabrik yang sekarang terendam lumpur, terkubur sejarah perjuangan para buruh memperbaiki ekonomi mereka. Marsinah, Perempuan kelahiran 10 April 1969, tewas dalam peristiwa Mei 1993.
Kecongkakan pengusaha dan kedzholiman aparat terhadap anak bangsa, tergambar jelas dalam peristiwa meninggalnya Marsinah. Ia diculik, disiksa dan dibuang ke kawasan hutan. Teriakan menentang pemerkosaan hak buruh, memicu kedengkian dan kemarahan. Sejumlah kalangan termasuk aparat berseragam.
Kemarahan Marsinah bermula pada awal tahun 1993, kala itu Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% dari gaji pokok.
Marsinah kegiarangan, namun tak sedikitpun pengusaha bergeming dengan edaran orang nomer satu di Jawa Timur itu. Nasib buruh tetap jalan ditempat tanpa perubahan yang mendasar. Alahasil, Marsinah yang bekerja di PT Catur Putera Surya (PT. CPS), melakukan konsolidasi dengan rekannya.
Aksi unjuk rasa menjadi pilihan atas keresahan yang menghantui para buruh. Tanggal 3 dan 4 Mei 1993, gelombang aksi mulai berjalan. Tuntutannya, menuntut kenaikan upah regional buruh dari dari Rp 1700 menjadi Rp 2250/jam
Aksi mogok total yang terjadi waktu itu, membuat berang banyak pihak. Beberapa rekan Marsinah dipaksa mengundurkan diri karena dituding terlibat dengan pengerakan massa. Marsinah, tak terima perlakukan terhadap rekannya, hingga dirinya mendatangi Kodim dan mempertanyakan keberadaan rekannya.
Tanggal 5 Mei 1993, Marsinah hilang tanpa ada kejelasan. Tidak sedikit orang mempertanyakan keberadaan Marsinah. Perempuan penuh enerjik dan dedikasi itu, keberadaanya mulai menyisakan banyak tanya. Hingga terkuak, Marsinah tewas mengenaskan dengan penuh siksaan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk.
Menilik kejadian itu, bukan kah Lumpur Lapindo Sidoarja, merupakan karma yang penuh tanda tanya. Akankan Marsinah senang melihat kejadian yang sekarang dialam sana, atau mungkin dia menangis karena banyak buruh yang harus menangis kehilangan mata pencahariannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting